Tadi malam, tepat sehari setelah peringatan seratus tahun kebangkitan nasional (artinya tanggal 21 Mei dong, tul gak??) diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia, Gelora Bung Karno kembali ketempatan pagelaran hajatan besar, yaitu pertandingan sepakbola antara Bayern Muenchen dengan PSSI all stars.
Stadion yang dulunya disebut Gelora Senayan Jakarta ini tumpah ruah disesaki oleh para pemerhati bola yang haus akan tontonan sepakbola berkualitas. Mereka juga haus ingin melihat bangsa Indonesia bisa punya prestasi olahraga tingkat dunia setelah pekan sebelumnya disengat demam piala Thomas dan piala Uber. Walaupun di kedua kejuaraan bulutangkis tersebut Indonesia tidak meraih gelar juara, namun masyarakat sudah cukup puas menyaksikan andalannya jatuh bangun mempertahankan angka demi angka demi dapat mengumandangkan Indonesia Raya dan mengibarkan sang merah putih di tengah lapangan. Rasa salut yang tinggi dari penonton di lapangan dan pemirsa di rumah didapat oleh tim putri yang selama ini seperti dianaktirikan oleh induks emang organisasinya sendiri, namun keberhasilan mencapai final membuktikan bahwa mereka juga mampu mencapai puncak supremasi tertinggi, lebih tinggi dari target yang dibebankan sebelumnya oleh para offisial PBSI yaitu cukup sampai partai semi final saja.
Euforia masyarakat ini merupakan kelanjutan dari rangkaian acara yang digelar tanggal 20 Mei malam, ketika seluruh stasiun televisi menayangkan puncak acara Hari Kebangkitan Nasional. Presiden SBY dengan didampingi oleh JK serta seluruh jajaran kabinetnya hadir menyaksikan acara yang dapat membangkitkan kembali semangat dan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Betapa tidak, prajurit yang gagah berani dari berbagai angkatan dan polri memamerkan kepiawaian beladiri dan skill tinggi sebagai modal seorang prajurit yang tangguh lewat atraksi terjun payung, drumband, baris berbaris, konfigurasi, pawai pasukan, yang memberikan ilusi bahwa kita punya prajurit yang tangguh dan kuat. Masyarakat sipil juga tidak mau kalah tampil lewat atraksi pencak silat, tarian, nyanyian -walaupun tampilan 3 dieva terlihat mengecewakan. Konfigurasi yang menggambarkan berbagai tulisan dan bentuk, seakan mengingatkan kita
kembali pada masa jaya Presiden Soeharto yang gemar sekali menghadirkan pagelaran kolosal -mirip dengan perayaan-perayaan nasional yang dilakukan di negeri Cina. Pesan utama acara kali ini adalah bahwa kita adalah negara besar, punya kekuatan yang tidak boleh diremehkan, kaya akan berbagai potensi budaya daerah dan mampu berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Pesan ini dicanangkan secara eksplisit oleh Presiden lewat semboyan “Indonesia Bisa”.
Kembali ke soal bola, euforia yaang berkelanjutan ini tampak pula dalam pertandingan bola antara pasukan Jerman melawan pasukan Indonesia. Indonesia lebih dulu kebobolan 3-0 sebelum akhirnya mengejar ketinggalan 3-1 lewat sebuah gol yang cukup cantik yang lahir berkat umpan menyilang dan tandukan yang cepat melesakkan bola ke gawang lawan. Kiper kawakan Oliver Khan pun tak berdaya dibuatnya. Getaran gawang sontak menyalurkan ledakan bahagia para penonton di stadion utama yang membahana dan bergema bagai magma yang meletus keluar dari cawan stadion utama yang malam itu tampak cantik dipandang dibawah siraman bulan purnama. Teriakan INDONESIA.. INDONESIA tak putus-putusnya disuarakan para penonton fanatik agar Elie Iboy cs tidak mengendurkan semangatnya untuk menjebol jala Bayern Muenchen. Gemuruh gelombang mausia (human wave) pun mengalir di setiap penjuru stadion menambah gegap gempitanya suasana. Namun sayang, lewat sebuah serangan balik gawang Indonesia kembali dibobol oleh Jerman. Namun gol terakhir yang menggenapi kemenangan anak-anak Bayern Muenchen 5-1 terjadi lebih karena kecerobohan yang dibuat oleh pemain belakang Indonesia yang tadinya berusaha mencoba menyelamatkan gawang namun malah menimbulkan kesalahpahaman dengan penjaga gawang.
Banyak penonton yang puas melihat pertandingan semalam. Puas bukan karena melihat kualitas permainan yang baik, tapi puas bisa berkumpul bersama teman, berteriak bareng dan menyaksikan ‘kelucuan’ yang ditimbulkan karena pemain Indonesia masih terlihat kikuk menghadapi lawan.
Penonton memang tidak berharap Indonesia bisa menang, namun yang ingin dilihat penonton adalah semangat juang para pemain terbaik nasional kita. Mereka ingin melihat sesuatu yang bisa membanggakan ditengah-tengah himpitan realitas yang terasa menyesakkan. Sebentar lagi BBM sudah pasti akan naik, walaupun sementara itu harga bahan kebutuhan masyarakat sudah merangkak naik. Angka kriminalitas dan kemiskinan berjalan naik seiring seolah saling melengkapi. Bencana alam tak kunjung selesai, kecelakaan dimana-mana, termasuk Sophan Sophiaan yang harus menemui akhir hidupnya karena tersandung lubang lebar menganga di daerah Ngawi dalam rangkaian tour motor gedenya. Berita duka juga datang dari tokoh yang cukup dibanggakan masyarakat DKI, Bang Ali Sadikin, gubernur yang dikenal keras dan tegas, namun berhasil menciptakan Jakarta yang bermartabat dan lebih manusiawi. Ibu SK Trimurti, sang pejuang tiga jaman pun mendahului kita setelah berkutat dengan penyakit dan usia tua di RSPAD Gatot Subroto.
Kesedihan dan kesusahan seolah ingin dilupakan oleh para penonton sepakbola malam itu. Dengan berbagai atribut mereka membanjiri Senayan dengan naik motor, mobil, berjalan kaki hingga menyewa metromini. Muka dicat warna warni, lagu ‘kebangsaan’ dinyanyikan, tetabuhan dibunyikan, bendera dikibarkan semuanya untuk mendukung tim merah putih, walaupun tidak semua sempat masuk ke dalam stadion karena harga tiket yang kelewat mahal untuk ukuran kantong mereka. Sayang sekali lagi mereka harus menelan kekecewaan. Tim yang disanjungnya kalah. Namun tidak nampak kesedihan yang mendalam dari diri mereka. Apakah artinya suporter Indonesia sudah cukup sportif menerima apapun hasil pertandingan? Apakah mereka melihat kekalahan Indonesia adalah sesuatu yang biasa? Ataukah justru mereka tidak peduli apa yang terjadi, yang penting mereka bisa bersama dan berbagi? Wallahu a’lam, hanya Tuhan maha tahu yang bisa menjawab semuanya.