Liga Champions 2007, supremasi sepakbola Eropa berakhir sudah Rabu malam (22 Mei) atau Kamis dinihari di Indonesia. Banyak drama yang terjadi di partai final yang diselenggarakan di Luzhniki Stadium, Moskow, Russia. Sekali lagi, Manchester United menunjukkan keperkasaannya dengan menaklukkan Chelsea 7-6 dalam 7 kali adu tendangan penalti setelah sebelumnya skor tetap berimbang 1-1 walaupun telah terjadi perpanjangan waktu 2 kali 15 menit.
Banyak sudah ulasan yang bisa kita liat pagi ini diberbagai media elektronik (media cetak mungkin tidak sempat, karena sudah lewat tenggat waktu untuk mencetak) tentang analisis permainan kedua tim yang sama-sama berasal dari Inggris ini. Namun, tulisan ini tidak akan melakukan hal yang sama, karena memang penulis bukanlah pengamat bola serius, apalagi ahli bermain bola. Pun bukan komentator yang hafal teori dan nama-nama pemain serta kejadian dalam sejarah sepakbola, namun jangan harap mereka dapat meliuk selincah lidahnya jika bermain bola sungguhan
. Yang ingin diangkat adalah salah satu cuplikan drama bola yang juga kadang dapat merepresentasikan drama kehidupan yang sebenarnya.
Terbayangkah oleh anda perasaan Ronaldo ketika ia gagal memasukkan si kulit bundar ke dalam gawang Chelsea yang dikawal oleh Peter Czech? Padahal ia baru dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa dengan segudang prestasi yang sarat oleh kemenangan bergengsi. Sepanjang pertandingan pun ia berkali-kali melakukan serangan yang mematikan, namun nasib saja yang belum berpihak padanya hingga membuahkan gol. Ia mendapatkan kesempatan ke tiga (kalo nggak salah) untuk menendang bola, setelah semua eksekutor penalti lainnya baik dipihaknya maupun di pihak lawan sukses menjaringkan bola ke gawang lawan. Namun, sang dewi fortuna kali ini nampaknya tidak berpihak kepada Ronaldo. Ia gagal melesakkan bola walaupun ia mencoba sedikit berbuat tipuan dengan berhenti sejenak sebelum menendang dengan maksud menipu penjaga gawang agar tidak sempat mengantisipasi bola. Kegagalan ini menimbulkan goncangan hebat pada dirinya. Ia yang beberapa menit sebelumnya dianggap pahlawan dan dan sang fenomenal menjadi berbalik menjadi pecundang luar biasa yang dapat membawa kegagalan seluruh tim. Tendangan-tendangan penalti berikutnya silih berganti dieksekusi dengan baik oleh pemain kedua kesebelasan hingga datang kesempatan pada pemain veteran Chelsea yang juga merangkap sebagai kapten kesebelasan, John Terry. Ia yang diyakini akan mampu membobolkan gawang dan menjadi penentu kemenangan pertandingan yang melelahkan dan penuh emosi malam itu, ternyata gagal total. Ia terpeleset. Tendangannya melesat ke kiri atas gawang yang dijaga oleh kiper MU si jangkung van der Sar.
Keadaan tiba-tiba menjadi berbalik 180 derajat bagi kedua tim. Timbul harapan bagi para pendukung MU. Muncul kegamangan dari Chelsea dan pendukungnya, terutama sang pemilik modal Roman Abramovich yang sampai menunduk tidak tahan melihat tekanan dan kekecewaan yang begitu besar. Beruntung kesempatan tendangan yang diambil berikutnya mampu dimanfaatkan dengan baik. Namun ketika Nicolas Anelka, sebuah nama besar dalam sejarah sepakbola Eropa modern, gagal memasukkan bola, meledaklah sukacita para pendukung MU.
Yang menarik terjadi pada Ronaldo (MU). Meskipun saat itu timnya dinobatkan menjadi juara, ia justru menangis tersedu sambil menelungkup di atas rumput. Betapa tidak, ia seperti terselamatkan oleh bel lonceng kematian yang nyaris membuat cacat karirnya. Andaikan tidak ada kesialan yang menimpa John Terry, ia mungkin akan dicaci maki orang seluruh Inggris, bahkan dunia. Disinilah ironisnya, kesialan seseorang justru membawa kebahagiaan bagi orang lain. Ronaldo hampir tak percaya bahwa ia telah diselamatkan oleh musuhnya. Di sinilah kita dapat memetik pelajaran bahwa siapapun orangnya mungkin dapat menyelamatkan kita, walaupun dianggap musuh. Oleh karena itu rasanya tidaklah berlebihan nasehat yang datang dari para ulama, guru maupun orang tua yang mengatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada siapapun, berprasangka baik, selalu mengerjakan yang terbaik dan terutama tidak sombong, walaupun segala statistik menunjukkan bahwa tidak mungkin kesialan akan berpihak pada kita. Nampaknya Ronaldo sadar betul pelajaran hidup yang dipetiknya malam tadi. Tinggal John Terry yang dirundung duka dengan matanya bersimbah air mata penyesalan. Tapi itu lah hidup. Semenit kita berada di bawah tiba-tiba saja bisa langsung melejit ke atas. Seminggu sang raja berada di puncak kekuasaan, namun tiba-tiba bisa jatuh tergelincir bak tikus tanah. Itulah ghalibnya roda kehidupan. Bravo MU. Bravo Sir Alex. Bravo Ronaldo. Be tough John Terry! Terima kasih atas pelajaran yang kalian berikan malam ini.